Kehidupan masih tetap di tempat, tak ada sebuah perubahan yang aku alami. Masih berkutat pada rasa malas mengalahkan impian, mata kuliah proyek akhir pun yang sebenarnya dapat kukerjakan menjadi terbengkalai. Namun ilmu tidak hanya sebatas buku, karena ilmu yang sebenarnya adalah bagaimana kita berjuang dengan proses kehidupan yang kita lakukan.
Pukul tiga sore kemarin, aku mengantarkan salah satu kawanku untuk mencari sebuah penginapan bagi keluarganya, karena besok sabtu dia akan meraih gelar amd nya, lantas bagaimana denganku? Entahlah aku hanya bisa pasrah tanpa ada keinginan kuat untuk menyelesaikan studiku. Raut wajah Nampak gelisah ketika semua penginapan dekat kampus sudah fully booked. Ak dan kawanku pun menelusuri kawasan jalan kawi, “mungkin ini pencarian yang terakhir semoga saja ada yang kosong”,dia berkata kepadaku. Dan alhasil kamar pencarian kami tidak sia-sia. Setelah nego dengan si recepsionis, bertanya mengenai harga type kamar, perjalanan berikutnya menuju trend shop dikawasan pertokoan dekat alun-alun kota malang. traffic light jalan kawi pun menunjukkan warna merah, dan kami pun berhenti sejenak. Kemudian dari belakang ada tiga anak kecil sedang menangadahkan tangannya. Anak jalanan atau bisa dikatakan pengemis mungkin itu persepsi dari banyak orang, namun aku tidak. Aku menganggap mereka adalah anak-anak yang sedang bertarung melawan siklus kehidupan mereka. “mas njaluk duike(mas minta uangnya)?”, kata salah satu anak tersebut. aku pun sebenarnya tak mengubris permintaannya, namun setelah kupikir kembali ketika dimana aku tak punya uang sepeser pun aku teringat akan hal tersebut, lantas kuberikan tiga ribu untuk masing-masing anak.
Akhirnya aku dan kawanku sampai di trend shop, kawanku sedang memilih celana untuk wisudanya dan aku hanya melihat-lihat jeans-jeans yang ada. Kawanku pun menentuka satu pilihan kemudian ia berjalan menuju kasir. Tepat di depan kami ada sepasang muda-mudi yang sedang membeli sesuatu. Mereka membeli seperti Lingerie, bisa dikatakan seperti itu. dua celana dalam wanita dan dua bra yang masing-masing berarna biru dan pink. Sungguh menggelikan jika melihatnya. Lalu si pria mengeluarkan walletnya dan memberikan lembaran nominal kisaran seratus lima puluh ribu. Mereka terlihat masih tampak belia, kira-kira berumur tiga tahun diatasku. Si pria Nampak malu ketika melihat dibelakangnya ada aku dan kawanku tapi wanitanya tampak cuek, mungkin sudah biasa membeli lingerie. Aku dan kawanku pun sedikit berbisik mengejek pria tersebut. pikiranku dan kawanku pun menjadi satu, “mungkin ketika mereka selesai making love si wanita memamerkan celana dalam dan branya yang sudah usang”, aku berbisik pada kawanku.
Malam harinya aku menghadiri pernikahan kawanku, mas heru (honesty) bersama kawan-kawan hardcore lainnya. Brand new day, mate.
Pukul setengah satu dini hari aku sampai dirumah. Lalu aku menjamah komputerku dan melihat kembali dvd yang dibelikan kakaku, 127 hour every second counts. Mengesankan, aku menyukai perjuangan yang dilakukan aron Ralston ketika ia terjepit bebatuan selama 127 jam kemudian ia memutuskan untuk memotong tangannya yang terjepit. Dan yang paling menyenangkan adalah ketika aron berenang dengan tangan buntungnya dan ketika ia menjulangkan kepalanya keatas di depannya sudah ada keluarga dan kerabat terdekatnya yang uduk di sebuah sofa dekat kolam renang. Apalagi backsound di akhir cerita yang heroik, mengingatkanku akan peristiwa hari itu dimana aku dapat menyimpulkan bahwa perjuangan selalu membutuhkan kesedihan dan kebahagiaan, dan aron adalah orang yang paling beruntung sekaligus tidak beruntung. Sebuah sinonim kehidupan dengan anak jalanan yang aku temui dijalan dan antonym kehidupan dengan apa yang dijalani si pria. Lantas aku? LET THE GOD TEACHING ME IN A STRUGGLE.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar